Piagam Gumi Sasak

PERTAHANKAN BUDAYA DAN TRADISI



Piagam Gumi Sasak



Nusa Tenggara Barat ( NTB ) memiliki 3 suku yaitu suku sasak, samawa, dan mbojo atau sering disingkat dengan kata Sasambo. Ketiga suku ini memiliki banyak sekali tradisi dan budaya masing-masing, misalnya suku sasak yang terletak di pulau Lombok. Suku sasak memiliki banyak sekali tradisi dan budaya yang menarik, unik, dan religious. Namun seiring dengan perkembangan zaman, banyak tradisi yang melenceng dari tradisi sebenarnya di suku sasak. Kemudian yang menjadi kekhawatiran tetua-tetua suku sasak adalah pergeseran makna dari tradisi-tradisi yang akan diwariskan ke generasi-generasi berikutnya menjadi berubah karna terkikis oleh zaman yang semakin maju. Maka pada tanggal 26 Desember 2015, dicetuskan Piagam Gumi Sasak yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada seluruh generasi suku sasak tentang budaya dan tradisi yag ada di gumi sasak. Hal ini seperti yang di ungkapkan oleh dosen Prodi  Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNRAM yakni  Murahim M. Pd,  saat ditemui di ruang kerjanya “ melihat kondisi kebudayaan gumi Sasak yang sudah agak melenceng dari arah yang sebenarnya maka kami berinisiatif bagaimana memperbaikinya kondisi  sejarah Sasak yang sudah di obrak abrik oleh kepentinan penguasa, kebudayaan yang sudah melenceng dari sejarah yang sebenarnya, bahwa prakti-praktik budaya sekarang ini  jalurnya sudah tidak jelas artinya nilai-nilai kearifan lokal yang muncul  dari budaya-budaya tersebut hilang  karena tidak sesuai dengan jalannya tidak sesuai dengan koridor yang digunakan. Jadi kami sebagai di lembaga kebudayaan  bangsa Sasak merasa  bertanggung jawab untuk kemudian bagaimana memperbaiki hal-hal tersebut.”  Ungkapnya (27/12/2017).
Berikut isi dari Piagam Gumi Sasak.
PIAGAM GUMI SASAK
Bismillahirrahmaanirrahiim
Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan mata rantai sejarah kemanusiaan melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jati dirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jati diri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang berlangsung hingga saat ini. Beralih pencitraan budaya dan sejarah bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi bangsa imperior yang tak mampu tegak diantara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanah kefitrahannya sebagai sebuah bangsa. Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan Piagam Gumi Sasak sebagai berikut.

1. Berjuang bersama menggali dan menegakkan jati diri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
2.   Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
3.  Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.
4.   Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
5.  Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu, dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulud tahun Jimawal/1437 H.
26 Desember 2015
Ditandatangani bersama kami,
1.        Drs. Lalu Azhar (Pemban Gumi Adat Sasak)
2.        Drs. H. Lalu Mujtahid (Pemucuk Wali Paer)
3.        Drs. Lalu Baiq Windia, M.Si (Ketua Majelis Adat Sasak)
4.        TGH. Ahyar Abduh (Tokoh Agama)
5.        Drs. H. Husni Mu’adz, M.A., Ph.D (Akademisi Budayawan) 
6.        Dr. Muhammad Fadjri, M.A (Sejarawan)
7.        Dr. H. Jamaludin, M.Ag. (Sejarawan)
8.        Dr. Lalu Abd. Khalik M.Hum. (Ahli Bahasa)
9.        Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M.Sc. (Tokoh Agama)
10.    Drs. H. Sudirman, M.Pd (Ketua Asosiasi Tradisi Lisan NTB)
11.    Dr. H. L. Agus Fathurrahman (Tokoh Budaya)
12.    Mundzirin, S.H (Advokat)
13.    L. Ari Irawan, S.E., S.Pd., M.Pd (Direktur Rowot Nusantara Sasak)


Komentar

  1. Bagus banget artikelnya. Sangat bermanfaat !

    BalasHapus
  2. Good... ditunggu postingan selanjutnya

    BalasHapus
  3. Harus di pertahankan dan dilestarikan budaya sasak sampai anak cucu kita.

    BalasHapus
  4. Harus di pertahankan dan dilestarikan budaya sasak sampai anak cucu kita.

    BalasHapus
  5. Super sekali, sangant menambah wawasan

    BalasHapus
  6. untuk itulah kita harus tetap mempertahankan kebudayaan dan tradisi kita sebagai Suku Sasak

    BalasHapus

Posting Komentar